"Kenapa kau murung?" tanya kris dengan menghentikan proses perangkaian bunga.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya balik jesi.
Pulangnya jesi memikirkan perkataan nenek tua itu, ia terus memikirkan semuanya yang dikatakan nenek tua tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melangkah sejauh ini? Apakah ini akan menjadi kebaikan ku kelak?"tanya dalam hati jesi sambil melangkahkan kaki bolak balik.
Pagi hari jesi membantu para pegawai istana membersihkan kamar kedua orang tuanya. Jesi mencari ibunya kesana kemari tapi tidak menemukan ibunya. Jesi dengan tetap melihat kesana kemari jesi masuk ke kamar ibu nya tersebut dan mengambil kalung yang memiliki batu musafir yang indah berwarna biru. Batu tersebut di beri oleh nenek nya jesi untuk ibunya. Kalung tersebut sekilas tampak terpancarkan cahayanya yang sangat indah. Jesi memasukkan kalung tersebut ke kantong baju nya. Jesi kembali ke kamar nya dan menutup pintu dengan cepat.
"Kenapa penyihir itu menginginkan kalung ini? Apakah kalung ini dapat membuat bencana untuk keluarga dan seisi istana ini hancur?" tanya nya dalam hati jesi sendiri
Kris mendapat tamparan keras dari teman teman nya, kris memang orang yang tidak suka bicara, pendiam dan pintar banyak yang tidak menyukai keberadaan kriss karena kris selalu menjadi yang pertama. Kris pulang dengan babak belur di wajahnya dan ia tidak langsung pulang kerumah melainkan pergi kehutan untuk melihat jesi. Kris menunggu lama sampai tertidur, ketika kris membuka mata ia melihat di tangannya terdapat jesi yang duduk di tangan kris.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya jesi
"Hmm" kata kris dengan menundukkan kepala. Tiba-tiba jesi memeluk tangan kris yang sedang memegang kepala.
Sabtu, 26 Desember 2015
Di balik peri kecil jesi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar